Jumat, 24 April 2015

Media Kartun Edukatif dalam Pembelajaran

a.      Pengertian Media Pembelajaran
Menurut Heinich, dkk (1996), media (jamak)/medium (tunggal) secara umum adalah saluran komunikasi, yaitu segala sesuatu yang membawa informasi dari sumber informasi untuk disampaikan kepada penerima informasi. Menurut Critters (1996), media pembelajaran dipandang sebagai alat atau wahana untuk menyampaikan atau mengkomunikasikan pesan pembelajaran kepada peserta didik.[1]

Munir berpendapat bahwa media pembelajaran dapat diartikan sebagai perantara sampainya pesan belajar (message learning) dari sumber pesan (message resource) kepada penerima pesan (message receive), sehingga terjadi interaksi belajar mengajar. Media pembelajaran meliputi segala sesuatu yang dapat membantu pengajar dalam menyampaikan materi pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan motivasi, daya pikir dan pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran yang sedang dibahas atau mempertahankan perhatian peserta didik terhadap materi yang sedang dibahas.[2]
Sedangkan menurut Gatot Muhsetyo, dkk, media adalah alat bantu pembelajaran yang secara sengaja dan terencana disiapkan atau disediakan guru untuk mempresentasikan dan/atau menjelaskan bahan pelajaran, serta digunakan peserta didik untuk dapat terlibat langsung dengan pembelajaran tersebut. Tuntutan masa kini, agar guru mampu memilih dan menggunakan media pembelajaran yang tepat, perlu mendapat perhatian dan tanggapan yang sungguh-sungguh dari berbagai pihak, jika tidak, pendidikan di Indonesia akan semakin tertinggal dari negara-negara lain.[3]
Jadi, media pembelajaran adalah segala sesuatu alat atau wahana bantu pembelajaran yang secara sengaja dan terencana disiapkan atau disediakan sebagai perantara untuk mempresentasikan dan menyampaikan pesan belajar (message learning) dari sumber pesan (message resource) kepada penerima pesan (message receive), sehingga terjadi interaksi belajar mengajar.
Lebih jauh menurut Amalia Sapriati, bahwa tujuan penggunaan media dalam pembelajaran adalah untuk 1) meningkatkan kualitas dan efektivitas pembelajaran, 2) memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran, 3) memberikan arahan tentang tujuan pembelajaran yang hendak dicapai, 4) menyediakan evaluasi mandiri, 5) memberi rangsangan kepada guru untuk kreatif, 6) menyampaikan materi pembelajaran, 7) membantu pebelajar yang memiliki kekhususan tertentu.[4]
Menurut Winn (1996), fungsi media antara lain adalah
1) menyampaikan pembelajaran, di mana media digunakan untuk menyampaikan materi pembelajaran tertentu, 2) konstruksi dari lingkungan, di mana media membantu peserta didik menggali dan membangun pemahaman dari pengetahuan, dan 3) mengembangkan keterampilan kognitif, di mana media digunakan sebagai model, kreasi atau pengembangan dari keterampilan mental.[5]
b.      Kartun Edukatif
Film kartun merupakan salah satu media audio-visual yang sangat digemari pada usia anak-anak. Film kartun ini mampu merangsang daya imajinasi anak sehingga memberikan kesan mendalam yang tahan lama. Selain itu, film kartun juga memiliki kemampuan yang besar sekali untuk menarik perhatian, mempengaruhi sikap dan juga tingkah laku anak. Hal ini dikarenakan film kartun biasanya menggunakan karakter yang mudah disukai anak, sehingga kerap kali anak-anak tersebut menjadikan tokoh kartun idolanya sebagai contoh perilaku dalam aktivitas bermainnya. Sayangnya, banyak film kartun yang tidak mendidik disajikan untuk anak-anak sehingga berdampak negatif bagi perilaku anak tersebut. Jika saja film kartun tersebut bernuansa edukatif, maka perilaku anak-anak pun lebih terdidik.
Film kartun sebagai tontonan edukatif anak-anak ini disajikan dengan memakai prinsip contextual dan realistic, yang artinya alur cerita yang di tawarkan pada tiap tayangannya merupakan konteks kehidupan yang sangat dekat dengan anak-anak. Diharapkan dengan ini anak-anak bisa lebih mudah mencerna materi yang diajarkan dalam film itu karena ia merasa dekat dan tidak asing dengan situasi tersebut.
Inovasi media belajar ini selain dapat menjadi sebuah alternatif yang sangat cocok bagi pembelajaran anak, juga dapat memotivasi para animator yang dimiliki oleh Indonesia untuk lebih meningkatkan kreativitas mereka dalam membuat animasi yang bermanfaat dan memiliki nilai edukatif bagi masyarakat, terutama anak-anak
Kartun sebagai alat bantu mempunyai manfaat penting dalam pengajaran,terutama dalam menjelaskan rangkaian isi bahan dalam satu urutanlogis atau mengandung makna.Memilih kualitas kartun yang efektif untuk membantu tujuan pengajaran perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1)      Pemakaiannya sesuai dengan tingkat pengalaman : pertimbangan pertama adalah, arti kartun hendaknya dapat dimengerti oleh para peserta didik pada saat kartun tersebut digunakan. Misalnya kartun mengenai bantuan luar negeri atau perang dingin, akan kecil artinya bagi murid kelas enam yang belum mempelajari judul-judul tersebut. Demikian juga banyak guru yang tersentuh melihat kartun berikut, sebaliknya para peserta didik mungkin merasa lucu melihatnya;
2)      Kesederhanaan : memperkirakan arti kartun dapat dimengerti, berarti ada beberapa perwatakan fisik yang diinginkan dari kartun-kartun yang baik. Satu di antaranya adalah kesederhanaan. Secara umum dapat dikatakan bahwa kartun-kartun yang baik hanya berisi hal yang penting-penting saja. Beberapa kartun bahkan tidak memerlukan keterangan sama sekali, karena lukisan itu sendiri telah menyampaikan gagasan tanpa bantuan kata-kata. Walaupun kartun sosial politik biasanya memerlukan keterangan namun harus jelas, singkat dan langsung. Penjelsan yang panjang lebar ti dak perlu jika kartun dibentuk serta dibuat dengan baik;
3)      Lambang yang jelas : ciri ketiga dari kartun yang efektif adalah kejelasan dari pengertian-pengertian simbolis. Lambang-lambang yang menggambarkan konsep-konsep yang lebih abstrak, seperti hak-hak negara, kemanusiaan, dan kemerdekaan sulit disampaikan.
Penggunaan kartun edukatif dalam proses pembelajaraan mempunyai beberapa manfaat, antara lain :
1)      Untuk motivasi : sesuai dengan wataknya kartun yang efektif akan menarik perhatian serta menumbuhkan minat belajar peserta didik. Beberapa kartun dengan topik yang sedang hangat, bilamana cocok dengan tujuan-tujuan pengajaran, merupakan pembuka diskusi yang efektif;
2)      Sebagai ilustrasi : seorang guru melaporkan hasil efektif dari penggunaan kartun-kartun dalam menggambarkan konsep ilmiah pengajaran sain. Sebagian dipakai untuk mengemukakan beberapa pertenyaan tentang tidaknya situasi ilmiah yang dapat digambarkan dalam kartun. Sebagian lagi menggambarkan kesalahan-kesalahan dalam menafsirkan isi yang terkandung dalam kartun. Ini berarti kartun  dapat digunakan sebagai ilustrasi dalam kegiatan pengajaran;
3)      Untuk kegiatan peserta didik : jenis lain dari kartun yang dipergunakan adalah kreasi kartun-kartun yang dibuat peserta didik sendiri. Para peserta didik membuat kartun untuk menumbuhkan minat dalam kampanye kebersihan, keselamatan mengemudi dan lain-lain.
c.       Pemanfaatan Media Kartun Edukatif dalam Pembelajaran
Mengintegrasikan TIK ke dalam pembelajaran antara lain untuk meningkatkan kompetensi pengajar dalam mengajar dan meningkatkan mutu belajar peserta didik. TIK yang sifatnya inovatif dapat meningkatkan apa yang sedang dilakukan sekarang dan masa mendatang. Oleh karena itu, pengajar hendaknya memanfaatkan seluruh kemampuan dan potensi teknologi untuk meningkatkan pembelajaran, terutama melakukan pembaharuan dalam upaya mengembangkan proses belajar peserta didik.
Pembelajaran dengan media kartun edukatif akan berjalan dengan efektif jika peran pengajar dalam pembelajaran adalah sebagai fasilitator pembelajaran atau yang memberikan kemudahan kepada peserta didik untuk belajar bukan lagi sebagai pemberi informasi. Pengajar bukan satu-satunya sumber informasi yang disampaikan dengan ceramah menyampaikan fakta, data atau informasi apa saja. Pengajar tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat belajar dari peserta didik, menjadi mitra belajar (partner), sehingga memungkinkan peserta didik tidak segan untuk berpendapat, bertanya, bertukar pikiran dengan pengajar.
Pengajar dapat menyampaikan informasi atau materi pembelajaran kepada peserta didik dengan media kartun edukatif melalui presentasi atas materi tersebut. Menurut Warjana dan Abdul Razaq, presentasi adalah suatu kegiatan berbicara di hadapan banyak hadirin[6] dalam hal ini adalah peserta didik. Pengajar memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya dan menciptakan kondisi bagi peserta didik untuk mengembangkan cara-cara belajar sesuai karakteristik, kebutuhan, bakat atau minatnya.[7]
Peran peserta didik dalam pembelajaran bukan objek yang pasif yang hanya menerima informasi dari pengajar, namun lebih aktif, kreatif dan partisipan dalam proses pembelajaran. Peserta didik harus mampu menghasilkan atau menemukan berbagai informasi ilmu pengetahuan. Pembelajaran dilaksanakan secara kooperatif berkelompok. Pada intinya proses pembelajaran berpusat pada peserta didik (student centered learning).



[1] Amalia Sapriati, dkk, Pembelajaran IPA di SD, Edisi Kesatu, Cetakan Ketiga,(Jakarta : Universitas Terbuka, 2009), hal.5.2.
[2] Munir, Op. Cit.,hal. 138.
[3] Gatot Muhsetyo, dkk, Pembelajaran Matematika SD, Edisi Kesatu, Cetakan Kedua, (Jakarta : Universitas Terbuka, 2008), hal. 2.3 – 2.4.
[4] Amalia Sapriati, dkk, Op. Cit., hal. 5.2 – 5.3.
[5]Ibid., hal. 5.3.
[6] Warjana& Abdul Razaq, Teknik Presentasi Power Point dengan Laptop, (Surabaya : Indah, 2007), hal. 8.
[7] Munir, Op. Cit., hal. 176.

Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi

Menurut Hasan Basri, kurikulum adalah seluruh rencana pembelajaran yang dijadikan pedoman oleh semua civitas akademika yang terdapat dalam satuan lembaga pendidikan formal maupun nonformal untuk mencapai tujuan yang diinginkan.[1] Dari berbagai pengertian kurikulum, terdapat kesamaan fungsi, yaitu sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan kurikulum sendiri merupakan tujuan setiap program pendidikan yang dilaksanakan pada peserta didik sehingga tujuan kurikulum harus dijabarkan dari tujuan umum pendidikan yang dilaksanakan.[2]

Kurikulum PAI merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, bahan dan cara pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum ini merupakan sekumpulan studi keislaman yang meliputi al-Qur'an Hadiṡ, Aqidah Akhlaq, Fiqih, Tarikh dan Kebudayaan Islam. PAI di sekolah dimaksudkan agar peserta didik berkembang sebagai manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt., memiliki pengetahuan Islam yang luas, berakhlaqul karimah. Untuk itu diperlukan kurikulum PAI yang kontekstual dan dapat malayani harapan masyarakat.[3]
Menurut Achmadi, dalam pelaksanaan PAI dipakai beberapa pendekatan, yaitu sebagai berikut :
a.       Pendekatan pengalaman, yaitu memberikan pengalaman keagamaan kepada peserta didik dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan;
b.      Pendekatan pembiasan, yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk senantiasa mengamalkan ajaran agamanya;
c.       Pendekatan emosional, yaitu usaha untuk menggugah perasaan dan emosi peserta didik dalam meyakini, memahami dan menghayati ajaran agama;
d.      Pendekatan rasional, yaitu usaha untuk memberikan peranan kepada rasio (akal) dalam memahami dan menerima kebenaran ajaran agamanya; dan
e.       Pendekatan fungsional, yaitu menyajikan ajaran agama Islam dengan menekankan kepada segi kemanfaatannya bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkat perkembangannya.[4]
Teknologi pendidikan memegang peranan yang penting, terutama setelah berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, di mana komputer menjadi bagian integral di dalamnya. Teknologi pendidikan dan berbagai alternatif pendidikannya untuk masa sekarang dan masa yang akan datang mendorong pendidik memanfaatkan seoptimal mungkin penggunaan komputer tersebut di bidang pendidikan.
Teknologi pendidikan menurut Munir merupakan pendekatan sistematis dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi proses pembelajaran. Dengan adanya teknologi pendidikan, maka terjadi kecenderungan-kecenderungan sebagai berikut :
a.       Terjadinya perubahan gradual ke arah pendekatan belajar yang lebih berpusat pada peserta didik (student centered approach learning). Perubahan ini ditandai oleh semakin bertambahnya penggunaan media belajar yang diindividualisasikan; dan
b.      Pertambahan secara eksplosif penggunaan teknologi informasi dan komunikasi secara praktis dalam semua aspek pendidikan.[5]
Kurikulum dan teknologi pendidikan saling melengkapi. Teknologi pendidikan berfungsi memperkuat pengembangan kurikulum. Bagaimana kurikulum dikembangkan, maka itu menjadi fungsi teknologi pendidikan. Teknologi pendidikan memiliki peran yang besar pada pengembangan kurikulum karena dalam merancang, menyusun dan mengembangkan kurikulum menjadi sumber yang menentukan strategi pembelajaran dengan menempatkan pendidik tidak hanya sebagai pelaksana, namun sebagai perekayasa dalam proses pembelajaran.



[1] Hasan Basri,  Filsafat Pendidikan Islam, Cetakan 1, (Bandung : Pustaka Setia, 2009),
hal. 128.
[2] Rahmat Raharjo, Pengembangan & Inovasi Kurikulum, Membangun Generasi Cerdas dan Berkarakter untuk Kemajuan Bangsa, Cetakan 1, (Yogyakarta : Baituna Publishing, 2012), hal. 21.
[3] Rahmat Raharjo, Inovasi Kurikulum Pendidikan Agama Islam, Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran, Cetakan 1, (Yogyakarta : Magnum Pustaka, 2010), hal. 35.
[4] Sahal  Mahfudz, dkk, Pendidikan Islam, Demokratisasi dan Masyarakat Madani, (Editor : Ismail SM & Drs. Abdul Mukti, M.Ed), Cetakan I,(Semarang – Yogyakarta : Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang & Pustaka Pelajar, 2000), hal. 163.
[5]Munir, Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi, Cetakan Kesatu, (Bandung : Alfabeta, 2008), hal. 40.

Penelitian Tindakan Kelas PTK

1.      Penelitian Tindakan Kelas
a.       Pengertian Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau dalam bahasa Inggris disebut Classroom Action Researchterdiri dari tiga kata, yaitu penelitian, tindakan, dan kelas. Penelitian sendiri merupakan kegiatan untuk mencermati suatu objek dengan menggunakan metodologi tertentu dan bertujuan untuk memperoleh data yang bermanfaat untuk meningkatkan mutu suatu hal.  Tindakan adalah suatu tindakan yang sengaja dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu.  Sementara itu, penelitian tindakan didefinisikan sebagai studi sistematis dari upaya meningkatkan praktik pendidikan oleh kelompok partisipan dengan cara tindakan praktis mereka sendiri dan dengan cara refleksi mereka sendiri terhadap pengaruh tindakan tersebut.[1] Dalam konteks pendidikan, berarti PTK merupakan tindakan perbaikan guru dalam mengorganisasi pembelajaran secara sistematik untuk memperoleh hasil yang lebih baik.

Menurut IGAK Wardhani dan Kuswaya Wihardit, penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar peserta didik menjadi meningkat.[2]PTK menggunakan desain-desain penelitian tindakan seperti yang diungkapkan Mills dalam Creswell, yaitu action research designs are systematic procedures done by teachers (or other individuals in an educational setting) to gather information about, and subsequently improve, the ways their particular educational setting operates, their teaching, and their student learning.[3] Dari kutipan ini dapat dipahami bahwa PTK bertujuan untuk memperbaiki program pembelajaran di kelas.
b.      Manfaat Penelitian Tindakan Kelas
Fraenkel menyebutkan sekurang-kurangnya terdapat lima manfaat penelitian tindakan kelas,[4] yaitu:
1)      PTK dapat dilakukan oleh hampir semua ahli di semua tipe sekolah, semua level, guru kelas baik secara individu maupun berkelompok, ataupun pimpinan sekolah;
2)      PTK dapat memperbaiki praktik pendidikan; membantu praktisi pendidikan (guru, pimpinan sekolah) dalam meningkatkan kompetensi terhadap apa yang mereka lakukan;
3)      PTK memberi ruang kepada guru atau praktisi lain untuk mengadakan penelitian mereka sendiri sehingga dapat mengembangkan cara-cara yang lebih efektif untuk mempraktikkan keahlian-keahlian mereka sendiri;
4)      PTK membantu guru mengidentifkasi masalah-masalah dan isu-isu secara sistematis; dan
5)      PTK dapat membangun sebuah komunitas yang berorientasi penelitian ilmiah di dalam sekolah itu sendiri.
c.       Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas
Apabila dirumuskan, karakteristik PTK[5] dapat dijabarkan sebagai berikut :
1)      Masalah PTK berawal dari guru: masalah yang ditemukan guru di dalam kelas sebagai pelaku pembelajaran dapat menjadi topik utama dalam melakukan penelitian;
2)      Tujuan PTK adalah memperbaiki pembelajaran: implikasi dari tujuan ini adalah guru tidak boleh mengorbankan proses pembelajaran karena sedang melakukan PTK;
3)      PTK adalah penelitian yang bersifat kolaboratif: seorang guru dapat berkolaborasi dengan dosen tenaga ahli ataupun teman sejawat dalam melaksanakan PTK, sehingga dapat saling memberikan masukan tentang prosedur pelaksanaan PTK dengan benar;
4)      PTK adalah jenis penelitian yang memunculkan adanya tindakan tertentu untuk memperbaiki proses belajar mengajar di kelas: tindakan-tindakan ini dapat berupa penggunaan metode pembelajaran tertentu, penerapan strategi pembelajaran, pemakaian media/sumber belajar, jenis pendekatan tertentu, atau hal-hal inovatif lainnya;
5)      PTK dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik pendidikan: hal ini terjadi karena dengan melakukan PTK berarti seorang guru dapat membuktikan apakah sebuah teori pembelajaran dapat diterapkan secara efektif atau tidak di kelasnya, sehingga ia dapat memperoleh balikan yang bagus untuk perbaikan proses pembelajaran berikutnya.
d.      Prinsip-prinsip Penelitian Tindakan Kelas
Prinsip-prinsip Penelitian Tindakan Kelas[6]menurut Suharsimi Arikunto meliputi :
1)      Kegiatan nyata dalam situasi rutin : penelitian yang dilakukan peneliti tidak boleh mengubah suasana rutin, penelitian harus dalam situasi yang wajar, sehingga hasil penelitian dapat dipertanggung-jawabkan. Hal ini berkaitan erat dengan profesi guru yaitu melaksanakan pembelajaran, sehingga tindakan yang cocok dilakukan oleh guru adalah yang menyangkut pembelajaran;
2)      Adanya kesadaran diri untuk memperbaiki kinerja : kegiatan penelitian tindakan kelas dilakukan bukan karena keterpaksaan, akan tetapi harus berdasarkan keinginan guru, guru menyadari adanya kekurangan pada dirinya atau pada kinerja yang dilakukannya dan guru ingin melakukan perbaikan. Guru harus berkeinginan untuk melakukan peningkatan diri untuk hal yanglebih baik dan dilakukan secara terus menerus sampai tujuannya tercapai;
3)      SWOT sebagai dasar berpijak : penelitian tindakan dimulai dengan melakukan analisis SWOT, yang terdiri atas unsur-unsur S-Strength(kekuatan), W-Weaknesses (kelemahan), O - Opportu-nity (kesempatan), T-Threat(ancaman). Empat hal tersebut dilihat dari sudut guru yang melaksanakan maupun peserta didik yang dikenai tindakan. Dengan berpijak pada hal-hal tersebut penelitian tindakan dapat dilaksanakan hanya bila ada kesejalanan antara kondisi yang ada pada guru dan juga peserta didik. Kekuatan dan kelemahan yang ada pada diri peneliti dan subjek tindakan diidentifikasi secara cermat sebelum mengidentifikasi yang lain.
4)      Upaya empiris dan sistemik : dengan telah dilakukannya analisis SWOT, tentu saja apabila guru melakukan penelitian tindakan, berarti guru sudah mengikuti prinsip empiris (terkait dengan pengalaman) dan sistemik, berpijak pada unsur-unsur yang terkait dengan keseluruhan sistem yang terkait dengan objek yang sedang digarap. Pembelajaran adalah sebuah sistem, yang keterlaksanaannya didukung oleh unsur-unsur yang kait mengkait. Jika guru mengupayakan cara mengajar baru, harus juga memikirkan tentang sarana pendukung yang berbeda, mengubah jadwal pelajarandan semua yang terkait dengan hal-hal yang baru diusulkan tersebut;
5)      Ikuti prinsip SMART dalam perencanaan : kata SMART yang artinya cerdas mempunyai makna dalam proses perencanaan kegiatan penelitian tindakan. Adapun makna dari masing-masing huruf adalah : S–Specific, khusus, tidak terlalu umum,  M–Managable, dapat dikelola, dilaksanakan, A-Acceptable, dapat diterima lingkungan, atau Achievable, dapat dicapai, dijangkau, R-Realistic, operasional, tidak di luar jangkauan dan. T-Time-bond, diikat oleh waktu, terencana.
e.       Langkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas
Secara garis besar dari beberapa model PTK yang telah dijelaskan di atas, terdapat empat tahapan yang biasa dilalui pada PTK yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Adapun perincian dari tiap tahap adalah sebagai berikut:
1)      Perencanaan : pada tahap perencanaan, peneliti menentukan fokus permasalahan yang akan diteliti, kemudian membuat perangkat pembelajaran serta instrumen pengamatan untuk menjaring data dan fakta yang terjadi pada waktu proses tindakan berlangsung.
2)      Pelaksanaan : pada tahap pelaksanaan, strategi dan rencana pembelajaran yang telah disiapkan pada tahap perencanaan, dilaksanakan. Pada tahap ini guru harus ingat dan mentaati apa yang dirumuskan dalam rencana pembelajaran, berlaku wajar dan tidak dibuat-buat.
3)      Pengamatan : pada tahap ini dilakukan pengamatan dan pencatatan semua hal yang diperlukan dan yang terjadi selama  pelaksanaan tindakan berlangsung. Pengumpulan data dilakukan dengan bantuan format observasi yang telah dipersiapkan, termasuk juga pengamatan secara cermat pelaksanaan tindakan dari waktu ke waktu serta dampaknya terhadap proses dan hasil belajar peserta didik. Data dikumpulkan dapat berupa data kuantitatif (hasil tes, kuis, prestasi, nilai tugas dan lain-lain) atau data kualitatif (keaktifan peserta didik, antusiasme peserta didik, mutu diskusi yang dilakukan, kreativitas peserta didikdan lain-lain).
4)      Refleksi : tahap refleksi dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan, berdasarkan data yang telah terkumpul kemudian dilakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan berikutnya.



[1] Emzir, Metode Penelitian Pendidikan : Kuantitatif dan Kualitatif, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2008), hal. 234.
[2] IGAK Wardhani & Kuswaya Wihardit, Penelitian Tindakan Kelas, Edisi I, Cetakan ke-4, (Jakarta : Universitas Terbuka, 2008), hal. 1.4.
[3] John W. Creswell, Educational Research : Planning, Canducting and Evaluating Quantitative and Qualitative Research, 4th Edition, (Boston, Pearson Education, 2012), page 577.
[4]Jack R Fraenkel, et al, How to Design and Evaluate Research in Education (8th). (New York: The McGraw-Hill Companies, Inc., 2012), page 596.
[5] Mansur Muslich, Melaksanakan PTK (Penelitian Tindakan Kelas) itu Mudah, (Jakarta : Bumi Aksara, 2010), hal. 12 – 13.
[6] Suharsimi Arikunto, dkk, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta : Bumi Aksara, 2006), hal.